Kekerasan, Budaya Kita

Dikirim Kekerasan pada Juni 5, 2008 oleh hamidi67

Hampir setiap hari kita selalu mendengar dan membaca  banyak terjadi bentuk tindak kekerasan. Memang banyak banyak bentuk dan wujud dari kekerasan. Namun, kata “kekerasan” menggambarkan adanya sebuah tindakan ataupun perbuatan yang dilakukan dengan paksa, dan bahkan tanpa peduli akan batas peri kemanusiaan (sebagaimana sila kedua dari Pancasila).

Indonesia adalah negara yang dibangun dengan sopan santun dan tata krama, dan hal ini terjelma dalam sila-sila Pancasila, bahkan dalam butir-butir penjabarannya, menggambarkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang mempunyai sopan santun, tata krama dan nilai-nilai peri kemanusiaan yang adil dan beradab.

Selain itu, bangsa Indonesia adalah bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai dan ajaran agama. Tidak dibenarkan adanya warga Indonesia yang athies alias tidak beragama. Bahkan menjalankan ajaran agama dilindungi oleh negara Indonesia. Dengan adanya dua ideologi (Pancasila dan Agama), tentunya harus memnjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang santun, ber-akhlaqul karimah dan menjunjung  tinggi nilai-nilai “kemanusiaan yang adil dan beradab”.

Ironisnya, apa yang terjadi  akhir-akhir ini, banyak terjadi tindak kekerasan, unjuk rasa yang anarkis dan lain sebagainya. Gambaran bangsa kita sangat jauh dari apa yang diharapkan pendahulu kita atau para pahlawan yang telah berjuang sampai tetes darah penghabisan.

Saya sebenarnya setuju dengan adanya unjuk rasa sebagai salah satu jalan menuangkan pendapat, namun lakukan hal itu dengan arif bijaksana, lakukan hal itu dengan menjunjung nilai-nilai budaya bangsa. Tidak-kah ada jalan lain yang patut kita pikirkan, dan pantas untuk kita kemukakan. Kekerasan bukan satu-satunya jalan penyelesaian. Mari bertindak penuh dengan kearifan, bijaksana, santun dalam perbuatan dan sopan dalam pemikiran.

Semoga jaya Indonesia-ku.

Aliran Sesat, mengapa ?

Dikirim Sekitar Kita pada Mei 29, 2008 oleh hamidi67

Keberadaan aliran maupun sekte keagamaan yang dinilai sesat ini bukanlah hal yang baru, melainkan sudah menjadi isu laten sejak masa perkembangan Islam sendiri sampai saat sekarang.

Akar Persoalan
Kemunculan aliran atau sekte keagamaan yang dikategorikan sebagai aliran sesat tersebut di Indonesia tentunya bukan tanpa sebab. Prof. Dr. Sunyoto Usman, mantan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM melihat kemunculan aliran sesat dalam Islam ini merupakan salah satu wujud kesalahan ulama. “Munculnya aliran agama sesat ini merupakan bentuk ketidakpuasan umat terhadap pemimpin agama atau ulama. Karena para kiai sepuh zaman sekarang ini kan banyak sibuk dengan urusan politik. Kebutuhan umat untuk berdiskusi tentang agama, tidak terpenuhi dan digantikan dengan televisi atau majalah,” ujar sosilog UGM ini. Sementara televisi maupun majalah tidak sepenuhnya mampu menggantikan peran ulama. Akhirnya umat berada pada kondisi krisis teladan. “Tidak ada seseorang yang bisa menjadi panutan. Tentunya dalam situasi seperti ini sangat mudah dimasuki konstruksi pemikiran yang nyeleneh. Tanpa ada rasionalisasi yang panjang, mereka mengikuti ajaran nyleneh itu,” tambahnya.
Apalagi secara sosiologis, masyarakat Indonesia tergolong masyarakat yang masih banyak berasal dari keluarga miskin. Sedangkan faktor kemiskinan ini dalam koteks sosiologis merupakan unsur yang memberi peluang akan munculnya suatu kondisi yang negatif, seperti kemunculan aliran sesat tersebut. Oleh karenanya, Tarmidzi Taher ketika diwawancari melihat berkembangnya aliran sesat ini merupakan salah satu akibat dari faktor kemiskinan itu.
Sebab setiap orang yang berada di tengah kondisi ketidakpastian, tekanan hidup yang kuat, kecemasan, keterasingan dan keputusasaan dalam memandang masa depan, sulit untuk berpikir panjang dan rasional. Pilihan-pilihan yang diambil pun akan cenderung instan dan tanpa pertimbangan. Maka banyaknya masyarakat yang masuk menjadi pengikut aliran sesat ini, merupakan imbas atas kondisi yang dialami seperti demikian itu. Komarudin Hidayat, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, menyebutkan faktor pemicu kemunculan aliran sesat ini sangat multifaktor. “saya menilai selain adanya problem psikiatrik dan psikologis dalam diri seseorang, yang tidak kalah pentingnya adalah menyangkut masalah ekonomi, ketidakadilan, ketidakseimbangan sosial, pendidikan, dan kultural,” ungkapnya.
Senada dengan Komarudin Hidayat, menurut M. Ali Haidar dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menyebutkan kemunculan aliran sesat ini akibat dari kurangnya peran negara dalam memfasilitasi berbagai kebutuhan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik dalam bidang ekonomi, pendidikan maupun keadilan. “Menurut beberapa teori sosial munculnya kelompok aliran sesat itu pada umumnya disebabkan oleh sekelompok masyarakat yang merasa didzalimi pemerintah sebagai pengatur negara yang tidak memberi berbagai kemudahan untuk memperoleh hak-hak mereka, sehingga mereka membentuk kelompok sendiri,” kata Haidar. Oleh karenanya, Haidar bisa merasa optimistis, kelompok-kelompok itu akan berkurang jumlahnya bila kesenjangan sosial dapat diatasi dengan memberikan berbagai kemudahan masyarakat memperoleh hak-hak hidup mereka secara adil, “ kalau ini tidak dilakukan, besar kemungkinan sekte-sekte keagamaan yang demikian terus bermunculan di tanah air kita,” tambahnya.

Ragam Motif Aliran
Dengan beragamnya akar atau latar belakang kemunculan aliran atau sekte keagamaan yang dipandang sesat tersebut, menunjukkan beragamnya tujuan maupun orientasi mereka. Sebagian kalangan memang ada yang menyebutkan sebagai bentuk keresahan spritual individu tertentu, sehingga aliran yang muncul tersebut sebagai alternatif jawaban. Bagi mereka yang berada dalam tekanan ekonomi, ketidakpastian hidup, kemunculan aliran sesat dijadikan sebagai alat penenang untuk menjawab atau mengobati dalam waktu sementara kondisi labil yang dialami.
Akan tetapi yang lebih radikal, melihat motif kemunculan aliran sesat ini juga diduga sebagai permainan dan skenario pihak tertentu untuk menghancurkan NKRI atau agama Islam. Seperti yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Achmad Satori Ismail, salah seorang pengurus MUI pusat, menurutnya setelah MUI melakukan survei, ternyata aliran sesat itu merupakan skenario asing. “Kesimpulan MUI yang demikian itu diperoleh dari temuan adanya pemimpin aliran yang tidak dapat membaca Al-Qur’an. Kami heran, lalu kami tanya tentang pengetahuan pemimpin itu tentang Islam dan siapa yang membayarnya untuk menyebarkan aliran sesat, dia menyebut sebuah negara, Lantas, apa target dari skenario itu? Skenario itu dirancang untuk merusak NKRI,” tutur Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah itu.
Menanggapi adanya pihak asing dalam keterlibatan munculnya aliran sesat ini juga ditanggapi oleh Tarmidzi Taher, menurutnya adanya keterlibatan pihak asing atau intelijen dalam fenomena aliran sesat ini bisa saja terjadi. “Dunia ini kan ibarat gloal village, kita hidup, di mana suatu negara bisa mengintervensi negara lain melalui aparat-aparat intelijen, melalui penggunaan-penggunaan ekonomi. Cuma, kita harus punya bukti-bukti, dan ini tugas aparat keamanan kita,” ungkapnya.
Untuk itu para ulama maupun tokoh agama, perlu kembali memberikan perhatian lebih terhadap umat. Karena banyak mereka kadangkala yang kurang tersentuh oleh para tokoh agama. Para tokoh agama, bisa memberikan pemahaman keagamaan yang lebih mendalam agar masyarakat bisa terhindar dari kriteria kesesatan dalam beragama sebagaimana yang difatwakan MUI tersebut.

BBM dan Kita

Dikirim BBM pada Mei 27, 2008 oleh hamidi67

Sungguh banyak berita dilansir seputar BBM. Memang diakui keterkaitan manusia dengan BBM sangat vital. BBM sudah menjadi konsumsi, bukan hanya untuk mesin-mesin tapi juga telah menjadi konsumsi politik. BBM dipersoalkan bukan saja oleh kalangan birokrasi, para pakar, mahasiswa bahkan rakyat kecil pun ikut ambil bagian.

Memang tidak salah harga BBM naik, namun dampaknya sungguh tak terperikan. Gejolak dan gelombang demonstrasi menjadi-jadi, kenaikan harga barang tak terelakan, terus dunia politik guncang ganjing, rakyat kecil menjerit takdipedulikan. Inikah gambaran negara kita, inikah demokrasi yang didambakan. Tentu keadaan demikian, siapapun orangnya, apapun pekerjaannya dan dimanapun berada, tidak ingin dan tidak mengharap akan terjadi reformasi babak kedua.

Mari kita tengok diri kita, masyarakat sekitar, dan penduduk Indonesiayang nota bene masih banyak yang berkategori “miskin”. Bantuan BLT tak cukup untuk membuat rakyat bahagia, itu hanya sesaat. Alangkah bijak andai terdapat sejumlah atau sejuta lapangan kerja bagi rakyat.

Ironisnya usaha kecil, seperti PKL diusir tanpa batas kewajaran apalagi kemanusiaan. Inikah alam merdeka yang ingin dinikmati seluruh warga. Sekali lagi berbuat bijaksana arif serta dengan hati nurani adalah hal terbaik untuk kita. Miskin tiada yang mau dan tidak ada orang yang ingin lahir dalam kemiskinan. Kondisi lingkungan, pengalaman dan pengetahuan memang menentukan, tapi adakah kemauan kita untuk berbagi, yang kaya menyantuni yang miskin, dan yang miskin membantu si kaya. Sungguh indah jika ini terjadi dan BBM tak perlu menjadi persoalan.

Tulisan ini hanya sekedar ungkapan yang tak luput dari salah dan khilaf serta kurang, tapi saya ingin mengajak kita untuk berbagi hati.

Camelia Malik

Dikirim Biografi Camelia Malik pada Mei 21, 2008 oleh hamidi67

Camelia Malik yang lahir di Jakarta, 22 April 1955 dibesarkan dalam keluarga yang sudah akrab dengan dunia seni. Ayahnya, Djamaluddin Malik adalah seorang produser film. Masa kecil Mia - panggilan akrabnya - banyak diisi dengan belajar menari, sehingga ia bisa menguasai tari Jaipong, Jawa, Minang, dan Bali.

Setelah sempat terjun ke dunia film dan membintangi beberapa judul macam Laki-laki Pilihan, Lorong Hitam, Dalam Sinar Matamu, Mencari Ayah dan Para Perintis Kemerdekaan, Mia lalu mulai melirik dunia tarik suara. Tahun 1979, Mia kemudian mengikuti jejak kakaknya, Achmad Albar yang sempat ngeband di Belanda sebelum mengibarkan grup rock, God Bless.

Selain menggeluti profesi sebagai penyanyi, pengarang lagu, dan mengorganisasi berbagai pertunjukan, Mia juga meluangkan waktunya mendirikan dan mengelola sebuah radio khusus dangdut, Radio Muara bersama Rhoma Irama dan Sys NS. Tapi sepanjang karirnya sebagai penyanyi, boleh dibilang, Mia bukan tipe penyanyi rekaman yang produktif. Dalam setahun, ia hanya menghasilkan satu album.

Perjalanan Musiknya:
Salah satu musisi yang juga banyak membantu karir Mia adalah Reynold Panggabean, mantan suaminya yang pernah berkibar di tahun 1980an lewat grup rock dangdut, Tarantula dengan penyanyi utama Camelia Malik. Mia sendiri mengakui, Reynold punya andil besar dalam mengangkatnya ke pelataran musik. Sebab bersama Tarantula, ia sudah menghasilkan 10 album yang antara lain berhasil melejitkan nomor Colak-colek.

Setelah bercerai dengan Reynold, Mia lalu menikah dengan aktor Harry Capri. Penyanyi yang mengagumi Titik Puspa dan Ruth Sahanaya ini juga sempat bergabung dengan grup Trakebah bersama Indra Lesmana, Gilang Ramadhan, Jalu dan peniup suling Bambang, mereka mengusung musik dangdut jazz dan sempat tampil di ajang “JakJazz” di Pasar Festival Kuningan, Jakarta, 7-9 November 1997.

Chrisye

Dikirim Biografi Chrisye pada Mei 21, 2008 oleh hamidi67

Anak kedua dari tiga bersaudara yang memiliki nama lengkap Chrismansyah Rahardi ini dilahirkan di Jakarta, 16 September 1949. Ia mulai aktif merintis karier musiknya di tahun 1968 saat bergabung sebagai basis dalam formasi Sabda Nada. Tahun 1968 - 1969 ia tergabung dalam Gipsy Band bersama Zulham Nasution, Keenan Nasution, Gauri Nasution, Onan dan Tami. Bersama kelompok Gipsy inilah Chrisye yang kala itu jadi vokalis sekaligus bassis sempat tercatat sebagai band penghibur di sebuah restoran Indonesia di New York. Sayangnya Gipsy pun tak dapat bertahan lama. Tahun 1970, bersama Gipsy Band pula, Chrisye sempat menggung di TIM Jakarta yang menghadirkan bintang tamu almarhum Mus Mualim.

Sekitar tahun 1977, Chrisye baru memulai karir solonya. Nampaknya bintang keberuntungan sedang bersinar terang karena dalam waktu singkat namanya langsung meroket sebagai vokalis andal saat menembangkan lagu karya James F. Sundah yang berjudul Lilin-lilin Kecil. Di saat yang sama ia juga memenangkan ajang “Lomba Karya Cipta Lagu Remaja Prambors” (LCLR). Hebatnya lagi, sepanjang kurun era 1980-an hingga memasuki tahun 2000, nama Chrisye tak pernah tenggelam. Hampir semua album yang dirilisnya selalu disambut baik di industri musik Indonesia.

Penghargaan:
Dalam beberapa dekade itu Chrisye sudah menyabet beragam pencapaian internasional seperti menjuarai ajang Enka Song Festival yang diadakan oleh Fuji T.V., Tokyo, Jepang serta menjadi Video Klip Pertama Indonesia yang ditayangkan di MTV Hong Kong lewat klip Pergilah Kasih . Selain segudang prestasi musik Chrisye juga ternyata punya talenta lain, karena ternyata ia pernah tercatat bermain dalam beberapa film layar lebar seperti “Seindah Rembulan” (1981) dan menjadi bintang tamu di “Gita Cinta dari SMA” (1981).

Lima (5) dari delapan belas album solo yang telah dirilis Chrisye berhasil mendapatkan penghargaan musik paling bergengsi di Indonesia yang diadakan oleh perusahaan pabrik pita kaset kosong, HDX dan BASF. Diantaranya album Aku Cinta Dia, Hip Hip Hura, Kisah Cintaku dan Pergilah Kasih. Sedangkan sebuah tembang diciptakan Chrisye yang berjudul Lagu Cinta, yang dibawakan oleh Vina Panduwinata berhasil mendapat penghargaan sebagai lagu terbaik oleh BASF.

Selain mencatat sebagai penyanyi pop yang sangat sukses, Chrisye juga tercatat sebagai pencipta lagu. Ada lebih dari 80 lagu ciptaan Chrisye. Karena begitu banyak dan sudah lama, Chrisye tak lagi dapat mengingatnya. Yang pasti, beberapa lagu ciptaan Chrisye menjadi hit dibawakan oleh antara lain: Vina Panduwinata, Tika Bisono, Andi M. Matalatta, Utha Likumahua.