Keberadaan aliran maupun sekte keagamaan yang dinilai sesat ini bukanlah hal yang baru, melainkan sudah menjadi isu laten sejak masa perkembangan Islam sendiri sampai saat sekarang.
Akar Persoalan
Kemunculan aliran atau sekte keagamaan yang dikategorikan sebagai aliran sesat tersebut di Indonesia tentunya bukan tanpa sebab. Prof. Dr. Sunyoto Usman, mantan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM melihat kemunculan aliran sesat dalam Islam ini merupakan salah satu wujud kesalahan ulama. “Munculnya aliran agama sesat ini merupakan bentuk ketidakpuasan umat terhadap pemimpin agama atau ulama. Karena para kiai sepuh zaman sekarang ini kan banyak sibuk dengan urusan politik. Kebutuhan umat untuk berdiskusi tentang agama, tidak terpenuhi dan digantikan dengan televisi atau majalah,” ujar sosilog UGM ini. Sementara televisi maupun majalah tidak sepenuhnya mampu menggantikan peran ulama. Akhirnya umat berada pada kondisi krisis teladan. “Tidak ada seseorang yang bisa menjadi panutan. Tentunya dalam situasi seperti ini sangat mudah dimasuki konstruksi pemikiran yang nyeleneh. Tanpa ada rasionalisasi yang panjang, mereka mengikuti ajaran nyleneh itu,” tambahnya.
Apalagi secara sosiologis, masyarakat Indonesia tergolong masyarakat yang masih banyak berasal dari keluarga miskin. Sedangkan faktor kemiskinan ini dalam koteks sosiologis merupakan unsur yang memberi peluang akan munculnya suatu kondisi yang negatif, seperti kemunculan aliran sesat tersebut. Oleh karenanya, Tarmidzi Taher ketika diwawancari melihat berkembangnya aliran sesat ini merupakan salah satu akibat dari faktor kemiskinan itu.
Sebab setiap orang yang berada di tengah kondisi ketidakpastian, tekanan hidup yang kuat, kecemasan, keterasingan dan keputusasaan dalam memandang masa depan, sulit untuk berpikir panjang dan rasional. Pilihan-pilihan yang diambil pun akan cenderung instan dan tanpa pertimbangan. Maka banyaknya masyarakat yang masuk menjadi pengikut aliran sesat ini, merupakan imbas atas kondisi yang dialami seperti demikian itu. Komarudin Hidayat, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, menyebutkan faktor pemicu kemunculan aliran sesat ini sangat multifaktor. “saya menilai selain adanya problem psikiatrik dan psikologis dalam diri seseorang, yang tidak kalah pentingnya adalah menyangkut masalah ekonomi, ketidakadilan, ketidakseimbangan sosial, pendidikan, dan kultural,” ungkapnya.
Senada dengan Komarudin Hidayat, menurut M. Ali Haidar dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menyebutkan kemunculan aliran sesat ini akibat dari kurangnya peran negara dalam memfasilitasi berbagai kebutuhan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik dalam bidang ekonomi, pendidikan maupun keadilan. “Menurut beberapa teori sosial munculnya kelompok aliran sesat itu pada umumnya disebabkan oleh sekelompok masyarakat yang merasa didzalimi pemerintah sebagai pengatur negara yang tidak memberi berbagai kemudahan untuk memperoleh hak-hak mereka, sehingga mereka membentuk kelompok sendiri,” kata Haidar. Oleh karenanya, Haidar bisa merasa optimistis, kelompok-kelompok itu akan berkurang jumlahnya bila kesenjangan sosial dapat diatasi dengan memberikan berbagai kemudahan masyarakat memperoleh hak-hak hidup mereka secara adil, “ kalau ini tidak dilakukan, besar kemungkinan sekte-sekte keagamaan yang demikian terus bermunculan di tanah air kita,” tambahnya.
Ragam Motif Aliran
Dengan beragamnya akar atau latar belakang kemunculan aliran atau sekte keagamaan yang dipandang sesat tersebut, menunjukkan beragamnya tujuan maupun orientasi mereka. Sebagian kalangan memang ada yang menyebutkan sebagai bentuk keresahan spritual individu tertentu, sehingga aliran yang muncul tersebut sebagai alternatif jawaban. Bagi mereka yang berada dalam tekanan ekonomi, ketidakpastian hidup, kemunculan aliran sesat dijadikan sebagai alat penenang untuk menjawab atau mengobati dalam waktu sementara kondisi labil yang dialami.
Akan tetapi yang lebih radikal, melihat motif kemunculan aliran sesat ini juga diduga sebagai permainan dan skenario pihak tertentu untuk menghancurkan NKRI atau agama Islam. Seperti yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Achmad Satori Ismail, salah seorang pengurus MUI pusat, menurutnya setelah MUI melakukan survei, ternyata aliran sesat itu merupakan skenario asing. “Kesimpulan MUI yang demikian itu diperoleh dari temuan adanya pemimpin aliran yang tidak dapat membaca Al-Qur’an. Kami heran, lalu kami tanya tentang pengetahuan pemimpin itu tentang Islam dan siapa yang membayarnya untuk menyebarkan aliran sesat, dia menyebut sebuah negara, Lantas, apa target dari skenario itu? Skenario itu dirancang untuk merusak NKRI,” tutur Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah itu.
Menanggapi adanya pihak asing dalam keterlibatan munculnya aliran sesat ini juga ditanggapi oleh Tarmidzi Taher, menurutnya adanya keterlibatan pihak asing atau intelijen dalam fenomena aliran sesat ini bisa saja terjadi. “Dunia ini kan ibarat gloal village, kita hidup, di mana suatu negara bisa mengintervensi negara lain melalui aparat-aparat intelijen, melalui penggunaan-penggunaan ekonomi. Cuma, kita harus punya bukti-bukti, dan ini tugas aparat keamanan kita,” ungkapnya.
Untuk itu para ulama maupun tokoh agama, perlu kembali memberikan perhatian lebih terhadap umat. Karena banyak mereka kadangkala yang kurang tersentuh oleh para tokoh agama. Para tokoh agama, bisa memberikan pemahaman keagamaan yang lebih mendalam agar masyarakat bisa terhindar dari kriteria kesesatan dalam beragama sebagaimana yang difatwakan MUI tersebut.