Sungguh banyak berita dilansir seputar BBM. Memang diakui keterkaitan manusia dengan BBM sangat vital. BBM sudah menjadi konsumsi, bukan hanya untuk mesin-mesin tapi juga telah menjadi konsumsi politik. BBM dipersoalkan bukan saja oleh kalangan birokrasi, para pakar, mahasiswa bahkan rakyat kecil pun ikut ambil bagian.
Memang tidak salah harga BBM naik, namun dampaknya sungguh tak terperikan. Gejolak dan gelombang demonstrasi menjadi-jadi, kenaikan harga barang tak terelakan, terus dunia politik guncang ganjing, rakyat kecil menjerit takdipedulikan. Inikah gambaran negara kita, inikah demokrasi yang didambakan. Tentu keadaan demikian, siapapun orangnya, apapun pekerjaannya dan dimanapun berada, tidak ingin dan tidak mengharap akan terjadi reformasi babak kedua.
Mari kita tengok diri kita, masyarakat sekitar, dan penduduk Indonesiayang nota bene masih banyak yang berkategori “miskin”. Bantuan BLT tak cukup untuk membuat rakyat bahagia, itu hanya sesaat. Alangkah bijak andai terdapat sejumlah atau sejuta lapangan kerja bagi rakyat.
Ironisnya usaha kecil, seperti PKL diusir tanpa batas kewajaran apalagi kemanusiaan. Inikah alam merdeka yang ingin dinikmati seluruh warga. Sekali lagi berbuat bijaksana arif serta dengan hati nurani adalah hal terbaik untuk kita. Miskin tiada yang mau dan tidak ada orang yang ingin lahir dalam kemiskinan. Kondisi lingkungan, pengalaman dan pengetahuan memang menentukan, tapi adakah kemauan kita untuk berbagi, yang kaya menyantuni yang miskin, dan yang miskin membantu si kaya. Sungguh indah jika ini terjadi dan BBM tak perlu menjadi persoalan.
Tulisan ini hanya sekedar ungkapan yang tak luput dari salah dan khilaf serta kurang, tapi saya ingin mengajak kita untuk berbagi hati.